Di Ufuk Timur

Posted by: Bagus  :  Category: Cerpen

Anak itu tergolek lemas di tempat tidur kumal. Umurnya baru lima tahun. Tapi terlihat seperti baru berumur 2 tahun. Beratnya hanya delapan kilogram. Matanya cekung. Kulitnya kering. Sesekali terdengar suara batuk cukup intensif keluar dari ternggorokannya yang parau. Anak itu tergolek lemas di sebuah ruangan ukuran sepuluh kali duapuluh meter. Dia tidak sendirian. Ada sekitar duabelas anak lainnya. Sebagian besar menangis. Membuat suasana bangsal itu menjadi cukup riuh rendah oleh tangisan bayi dan anak kecil. Jangan bayangkan rengekan anak kecil yang meminta dibelikan mainan. Sekilas terdengar seperti tangisan anak yang kesakitan. Rintihan lebih tepatnya. Jika mata anda ditutup, mungkin anda sulit membedakan antara suara anak kecil yang nerintih pilu dengan suara anak kucing yang menggigil kedinginan.

Di ruangan itu terdapat beberapa orang tua, laki-laki dan perempuan, duduk dengan setia menunggu buah hatinya masing-masing. Buah hati disini bukan berarti anak kandung sendiri. Ada beberapa anak yang sudah tidak memiliki ayah bunda lagi. Terpaksa paman, bibi atau kakek dan nenek lah yang menunggunya. Para penunggu dengan setia duduk di atas tilam yang juga sudah kumal. Tidak kalah kumal dengan tempat tidur si anak kecil. Di samping kanan dan kiri ada beberapa termos dan beberapa gumpalan plastik hitam yang entah apa saja isinya. Tidak ada tangisan orang tua disini. Mungkin sudah habis airmata mereka.

Anak itu kembali terbatuk. Batuknya masih seperti tadi pagi. Setiap kali batuk masih disertai dengan wajah yang meringis menahan sakit. Sekali lagi tidak ada tangisan dari raut wajah anak ini. Sungguh anak yang tabah. Ataukah sudah tidak memiliki enerji lagi untuk sekedar menangis. Pandangannya kosong menatap langit-langit bangsal yang tingginya hampir enam meter. Sarang laba-laba di ujung itu menjadi saksi hidupnya selama dia dirawat di bangsal itu. Pertama kali dia mengamati sarang laba-laba itu, diameternya hanya sebesar tutup panci ibunya yang paling besar. Kurang lebih hanya dua puluh sentimeter. Entah sudah berapa lama dia disini dan sarang laba-laba itu sudah menjadi dua kali ukuran panci ibunya yang paling besar. Mengamati sarang laba-laba ini adalah salah satu hiburan yang paling menarik buatnya.

Di setiap bagian bangsal terdapat beberapa jendela dengan ukuran sangat besar. Sangat besar untuk anak sekecil dia. Butuh bantuan dua orang temannya saling panggul memanggul untuk dapat menggapai ujung atas jendela itu. Suara berat jendela digeser sungguh sangat menyayat telinga. Itulah mengapa orang sangat jarang untuk membuka dan menutup jendela itu. Walhasil jendela itu selalu terbuka. Paling tidak terbuka setengahnya, menghindari suara berat yang akan membuat telinga setiap orang tersayat.

Jauh di luar ruangan ini, terdapat sebuah meja dan sebuah bangku panjang. Konon katanya meja dan bangku ini dipergunakan oleh perawat jaga sebagai nurse station. Maksudnya adalah sebagai gardu utama perawat apabila terdapat keadaan gawat darurat yang memerlukan pertolongan segera. Konon katanya pula, dulu perawat sering duduk-duduk disitu. Tapi sekarang jarang ditemui perawat disitu. Tidak mengapa. Karena rasa sakit ini sudah tidak membutuhkan perawat untuk meredakan rasanya.

Sesekali dokter dan perawat akan datang untuk memberikan instruksi tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang jangan dilakukan. Instruksi yang standar. Tidak ada yang aneh dalam manajemen rumah sakit. Tidak boleh makan yang terlalu keras. Obatnya harus selalu diminum. Jangan beranjak dului dari tempat tidur. Dan segala macam instruksi standar lainnya. Tidak ada yang aneh. Dua kali sehari mereka mendatangi si sakit, jam sembilan pagi dan jam sembilan malam. Sisanya si sakit akan berinisiatif untuk meminum obat sendiri.

Kemarin anak yang tidur di ujung kanan baru saja dipulangkan. Dipulangkan ke rumahnya dengan dikawal oleh ayah bundanya. Dikawal dengan tangis sesenggukan dari bundanya dan wajah tirus memelas dari ayahnya. Anak di ujung kanan itu dipulangkan dengan tidak bernafas. Meninggal. Yang jelas dia sudah bahagia di alam sana. Bahagia karena terlepas dari derita sakit yang selama ini dia rasakan.

Anak itu kembali terbatuk. Kali ini beberapa titik bercak darah keluar bersama genangan air ludah yang membasahi sapu tangan putih kumalnya. Sapu tangan itu sudah cukup lama menemaninya di bangsal ini. Tidak pernah dicuci. Jika digambarkan mungkin sudah ada ribuan titik-titik perdarahan di sana. Tidak perlu melihat foto rongent untuk dapat melihat imej kerusakan paru anak itu. Cukup melihat jejak-jejakperdarahn di sapu tangan dan kita dapat memastikan bahwa sebagian besar paru-parunya sudah teraniayan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis.

Sudah cukup lama anak itu keluar masuk rumah sakit seperti ini. Tidak terhitung sudah berapa kali dia dirawat di bangsal ini. Bangsal ini sudah menjadi kamar kedua baginya. Faktanya justru bangsal ini adalah kamar tidur yang cukup nyaman dibandingkan dengan kamar tidur di rumahnya. Kamar tidur ? Mungkin tidak bisa dibilang kamar tidur dari kacamata awam. Tapi baginya ruangan berukuran tiga kali empat meter di rumahnya adalah kamar tidur. Ruangan itu juga sesekali berfungsi sebagai ruang makan. Sesekali jika ada tamu yang datang bertandang ruang itu beralih fungsi menjadi ruang tamu. Di pagi hari tatkala ibunda sedang memasak ruangan itu bisa disulap menjadi dapur. Sebuah ruangan dua belas meter persegi yang luar biasa multifungsinya. Karane kamar itu adalah rumahnya. Ya benar. Rumahnay adalah sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter saja. Tidak hanya itu, anak itu harus berbagi ruangan ini dengan lima saudaranya yang lain.

Ayah dan bundanya bekerja serabutan. Bundanya terkadang menjadi buruh cucian bagi tetangga-tetangga di kompleks depan. Tempo-tempo menjual nasi bungkus jika ada kemeriahan tujuhbelasan di kampungnya. Sedangkan ayahnya tidak jelas kerjanya. Hanya yang pasti ayahnya selalu pergi dari rumah dengan membawa cangkul. Tapi tidak ada sawah di dekat situ. Mungkin ayahnya seorang buruh harian yang harus siap kapanpun mendapat order. Sesekali pulang malam tapi tidak membawa uang buat keluarganya.

Tepat satu tahun yang lalu anak itu sakit parah. Memang betul berat badannya tidak pernah naik semenjak dia berumur satu setengah tahun. Tapi sakit yang paling parah adalah tepat satu tahun kemarin. Darah keluar dengan deras diiringi batuk yang tidak kunjung henti. Ayah bunda panik. Saudara kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Atas inisiatif pak RT dibawalah anak itu ke Puskesmas. Puskesmas tidak sanggup untuk merawatnya. Akhirnya dibawalah ke rumah sakit tempat sekarang dia berada.

Dokter meminta untuk di tes HIV. Ayah bunda bingung tidak tahu apa itu HIV. Mendengarnya juga baru itu. Yang jelas mereka mendapat penjelasan tentang sebuah virus yang ternyata bisa menurunkan kekebalan pada manusia. Bukan kekebalan tahan dibacok. Bukan itu. Tetapi kekebalan untuk melawan infeksi lain. Dokter itu langsung melakukan tes terhadap sang anak. Dan hasilnya sesuai perkiraan dokter. Bahwa anak itu positif HIV. Tapi dapat virusnya dari mana ya? Tidak mungkin anak sekecil itu sudah melakukan hubungan seks ataupun bertukar jarum suntik. Si dokter kemudian meneruskan pertanyaan kepada kedua orang tuanya. Ditanyakan berbagai faktor resiko yang mungkin. Kemudian di tes, dan hasilnya ayah bundanya juga positif. Shock sudah pasti. Tapi apa daya itulah kenyataan hidup yang harus mereka jalani sebagai keluarga. Atas anjuran dokter anak-anak yang lain juga dianjurkan untuk dilakukan tes. Namun syukurlah hasilnya negatif.

Anak itu kembali terbatuk. Kali ini tanpa disertai tetesan darah. Ayah bundanya masih duduk di tilam di samping dipan bangsal kumuh itu. Pandangan ayah bunda masih kosong. Sekosong tatapan semenjak satu tahun yang lalu. Belum ada yang berubah dengan raut wajah maupun tatapan mata itu.

Sharing tulisan ini di :
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Tumblr
  • del.icio.us
  • LinkedIn
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • FriendFeed
  • Yahoo! Bookmarks
  • Digg
  • Print
  • email
  • PDF
  • RSS

Di Bawah Pohon Angsana

Posted by: Bagus  :  Category: Cerpen

Hari sudah menjelang sore. Udara di luar cukup dingin. Angin bertiup tidak terlalu pelan namun juga tidak terlalu kencang. Tidak terdengar suara-suara burung pipit seperti hari-hari biasanya. Azan ashar baru saja berkumandang. Matahari tertutup awan. Menambah hawa dingin sore ini. Pohon angsana di depan rumah tampak bergelayutan mencoba menggapai-gapai cakrawala. Rumah itu cukup sederhana. Tampak seperti sebuah rumah di pinggiran kota pada umumnya. Halamannya tidak terlalu luas. Hanya ada sebuah pohon angsana yang sedang melambai tadi dan beberapa semak belukar. Tentu saja tidak ada yang berniat untuk menanam semak itu. Di pintu masuk terdapat sebuah kotak surat terbuat dari kaleng yang sudah menunjukkan tanda-tanda karat di sana sini. Mungkin kotak surat itu sudah tidak berfungsi lagi. Memang semenjak 10 tahun yang lalu sudah tidak ada lagi orang yang berkirim surat ke rumah itu. Mungkin si empunya rumah sudah lupa bagaimana cara membuka kunci kotak surat itu.

Di depan rumah masih tampak sebuah teras dengan beberapa pot tanaman hias yang juga tidak terawat. Sesekali disiram dan sedikit dipotong daunnya. Ada anggrek ungu yang tidak pernah berbunga dan satu buah pot mawar putih yang mempunyai lebih banyak duri dibandingkan daunnya. Di sudut teras terdapat sebuah bangku bambu yang cukup reot. Sangat jarang diduduki berlama-lama. Di depan pintu tampak dua pasang sandal jepit merek swallow yang sudah kusam dan sebuah sandal selop Bata yang sudah mengelupas kaitnya.

Di dalam rumah itu terlihat seorang pemuda berbadan kurus yang sepertinya sudah dua hari tidak bersentuhan dengan air. Pemuda ini hanya berbaring melamun di sebuah kamar yang tidak pernah dibuka jendelanya. Bau lembab di dalam kamar mengalahkan bau badan pemuda itu. Di samping pemuda itu duduk seorang perempuan paruh baya. Tatapannya sesekali kosong menatap pemuda di sampingnya.

“Ayolah Rio, kamu harus makan siang ini.”

Rupanya pemuda ini bernama Rio. Tetap saja pandangan melamun masih menerangi mata Rio. Sementara perempuan paruh baya itu kembali menatap nanar wajah Rio.

“Mama juga capek kalau kamu terus-terusan seperti ini.”

Bu Karim, itulah mamanya Rio. Masih dengan tatapan kosong, Bu karim kembali menatap Rio. Entah apa yang ada di benak Bu Karim. Mungkin saat itu sedang tergambar slideshow kehidupan anak lelaki yang disayanginya. Ibu paruh baya ini kembali mengingat masa-masa ketika Rio dilahirkan. Masa-masa ketika Rio belajar untuk berjalan. Masa-masa ketika hari pertama masuk sekolah. Masa-masa yang sudah berlalu dan tetap menjadi kenangan manis bagi Bu Karim.

Ibu paruh baya ini terpaksa harus membesarkan anak lelaki yang disayanginya seorang diri. Suaminya, Pak Karim, telah lama meninggalkan dirinya untuk akhirnya menikah kembali dengan perempuan lain. Tidak ada perasaan dendam Bu Karim terhadap mantan suaminya. Yang ada hanyalah semangat untuk tetap membesarkan anak lelakinya, darah dagingnya sendiri, dengan keringat dan peluh Bu Karim sendiri. Masih tampak sisa-sisa kecantikan masa muda Bu Karim. Kecantikan ini sempat menjadikan Bu Karim menjadi janda kembang di pinggiran kota itu. Tidak sedikit lelaki yang menawarkan bantuan dan kasih sayangnya untuk dibagikan bersama dengannya. Bu Karim tidak bergeming. Keinginannya untuk selalu mencintai Rio membuat dia berpikir seribu kali lipat untuk menerima cinta dari sembarang lelaki. “Mungkin mereka bisa berbagi cinta denganku, tapi apakah bisa menyisihkan sedikit cinta untuk anakku,” demikian pikir Bu Karim sepanjang waktu. Dia juga khawatir akan berkurangnya kasih sayangnya kepada Rio. Sementara lelaki yang datang tidak bosa menjanjikan kasih sayang yang tulus untuk Rio.

“Ma, aku mau minum saja,” suara payau Rio membuyarkan lamunan Bu Karim. Segera disodorkan segelas air putih yang sudah sedari tadi dipegangnya.

Rio meneguk air dalam gelas itu dengan mimik wajah menahan rasa sakit. Ya betul, rasa sakit. Entah apa yang sedang terjadi di dalam kerongkongan Rio. Tidak ada makanan dan minuman yang bisa masuk selama seminggu ini. Setiap minuman yang masuk akan diterjemahkan sebagai impuls rangsang nyeri ke otaknya. Begitu juga dengan makanan. Tidak terkira perjuangan Rio hanya untuk meneguk segelas air putih. Perjuangan melawan rasa sakit dan nyeri yang luar biasa.

Dua hari yang lalu Bu Karim membawa Rio ke Rumah Sakit karena keluhan sakit menelan ini. Bukan rumah sakit yang mewah. Rio hanya dibawa ke sebuah rumah sakit kecil milik pemerintah yang terletak di pinggiran kota. Lebih tepat untuk disebut sebagai puskesmas raksasa. Saat masuk emergency, Rio sudah diarahkan untuk langsung masuk ke sebuah ruangan isolasi. Ruangan yang pengap, dengan sirkulasi yang minim. Jangan bayangkan ada penyejuk ruangan di sini. Kipas angin merupakan barang yang mewah di rumah sakit ini.

Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan tes HIV. Bu Karim sendiri kebingungan. “Apa hubungannya antara sakit menelan dengan tes HIV?” itu pertanyaan yang diajukan ketika akan menandatangani formulir persetujuan medis. Dokter tidak banyak menjelaskan terhadap pertanyaan ini. “Yah, pokoknya anak ibu di tes dahulu. Setelah itu mungkin saya bisa berikan alasannya. Ibu ikut saja prosedur di sini,” sang dokter menjawab dengan agak ketus. Bu Karim merasa terpojok dengan jawaban dokter yang berdiri di belakang status jubah putihnya. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Bu Karim atas penjelasan singkat sang dokter. Dengan terpaku, ibu paruh baya ini menyaksikan jarum yang menusuk nadi anaknya dan melihat darah merah yang keluar menuju spuit yang ditarik oleh seorang perawat perempuan.

“Baik bu, silakan duduk dulu, ibu bisa menunggu hasilnya setelah satu jam,” demikian perintah suster. Bergegas suster muda ini masuk ke sebuah ruangan yang banyak loketnya dan menyerahkan spuit yang sudah berisi darah Rio ke sana. Sementara menunggu, Bu Karim mengusap-usap kening anaknya, sambil berdoa dalam hati agar tidak terjadi hal-hal yang buruk kepada anaknya. Semoga ini hanya demam biasa saja. Semoga ini hanya sakit tenggorokan biasa. Semoga tidak ada sesuatu yang luar biasa dari darah Rio. Semoga,..

“Rio Angga Perdana, dua puluh lima tahun,” Teriakan petugas laboratorium mengagetkan doa Bu Karim.

“Ya Pak, anak saya itu,” jawan Bu karim bergegas.

“Silakan ibu menuju ke ruang konsultasi dokter. Sekalian kertas ini di bawa ke dokter,”perintah petugas lab.

Bu Karim bergegas menuju ke ruang konsultasi dokter sambil membaca apa isi kertas yang diberikan petugas lab tersebut.

Elisa test reaktif, apa ya artinya?” gumam Bu Karim. “Ah, semoga ini kabar baik buat anakku.”

“Silakan duduk bu,” tampak di sudut ruangan sang dokter tadi memerintahkan Bu Karim untuk duduk. “Coba saya lihat kertas hasil lab nya.”

Bu Karim menyerahkan kertas tadi dengan penuh harap.

“Ohhhh, anak ibu positif HIV nih,” kata dokter dengan wajah datar.

Bagaikan disambar kereta api, otak Bu Karim seakan-akan mau keluar mendengar berita itu. HIV kan penyakitnya para pendosa. Bagaimana mungkin anakku yang selama ini aku besarkan dengan keringatku sendiri bisa menjadi pendosa dengan penyakit ini ? “Dokter jangan becanda ya dok,” Bu Karim bertanya dengan nada harap-harap cemas.

“Nggak bu, saya tidak pernah becanda. Anak ibu memang positif HIV. Mungkin ibu nggak bisa mengontrol kelakuan anak ibu sendiri. Udah ya bu sekarang terserah ibu, mau diapain anak ibu. Disini nggak bisa menangani penyakit ini. Kalau mau saya rujuk ke rumah sakit yang lebih besar,” sang dokter berkata tanpa memberikan kesempatan Bu Karim untuk bertanya. Dalam sekejap Rio sudah dimasukkan ke brankar untuk dirujuk ke rumah sakit lain.

“Tapi dok, saya tidak punya biaya untuk itu. Kalau mungkin anak saya dirawat dulu di rumah. Minggu depan mungkin saya baru punya uang untuk ke rumah sakit rujukan itu dok,” pinta Bu Karim memelas.

Akhirnya disinilah sekarang Rio berada. Kembali lagi ke rumah yang dingin di pinggir kota. Kembali lagi ke kamar yang lembab. Kembali lagi ke pinggir kota tanpa suara burung pipit berkicau.

“Ini nak sekalian minum obat dari dokter ya,” bujuk Bu Karim sambil mengupas bungkus parasetamol 500 mg dan sebuah tablet kuning dari bungkus plastik. Rio hanya mengangguk sambil terus menahan sakit ketika menelan obat itu.

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketok. Siapa itu? Sudah lama sekali tidak terdengar suara ketukan di pintu depan. Tidak ada sanak saudara ataupun tetangga yang mempunyai urusan dengan Bu Karim ataupun Rio. Bu Karim bergegas menuju pintu depan dengan penuh tanda tanya. Pintu kayu yang berat itu perlahan dibuka. Sepasang wajah dengan senyuman tersembul dari balik pintu.

“Selamat sore bu, kami dari LSM, Kami ingin mengunjungi Rio, Putra Ibu, Kami dengar saat ini sedang sakit ya,..?”

“Ooooh silakan nak, masuk saja. Itu Rio nya sedang tidur-tiduran di kamar,” jawab Bu Karim

Di hadapannya sekarang ada dua orang anak muda. Yang satu perawakannya tinggi, agak kurus, rambut rapi dan dengan tatapan mata yang berbinar-binar. Yang satunya lagi agak lebih pendek, mungkin sekitar 165 cm tingginya. Badannya agak gempal, dengan rambut sedikit ikal. Gaya bicaranya meyakinkan.

“Nama saya Andy bu, saya petugas lapangan dari LSM,” si pemuda gempal memperkenalkan diri. “Ini teman saya namanya Ricky,” pemuda gempal memperkanalkan temannya yang agak kurus.

“Kebetulan dulu saya sempat berteman lama dengan Rio,”timpal Ricky. “Kurang lebih sekitar lima tahun yang lalu,” sambungnya.

“Ya, silakan nak. Rio pasti senang bertemu dengan teman-teman lamanya,” sahut Bu Karim.

Mereka bertiga berjalan melewati lorong rumah menuju kamar yang letaknya agak di belakang. Sesaat Andi dan Ricky melihat ke kanan dan ke kiri, melihat-lihat foto-foto keluarga Karim yang terpampang di dinding. Nampak jelas sejarah keluarga Karim. Mulai dari pernikahan Pak dan Bu Karim yang sederhana namun terlihat anggun. Foto-foto keluarga bersama saat ulang tahun Rio yang pertama. Foto-foto keluarga jauh mereka, mungkin ada kakek dan neneknya Rio disini. Sampai akhirnya tibalah mereka pada kamar lembab dan gelap tadi.

Mereka berdua cukup tercengang melihat kondisi Rio yang kurus dan tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Apalagi Ricky. Bayangan wajah Rio lima tahun yang lalu sungguh sangat berbdea dengan Rio yang dia lihat saat ini. Tidak muncul tatapan berani dan gagahnya dulu. Tidak ada tanda-tanda kecerdasan intelektual yang tersemburat dari kata-katanya, karena Rio hanya bisa diam menahan sakit.

“Apa kabar Rio ?” Sapa Ricky.

Rio sedikit berpaling dan hanya mengangguk. Sebenarnya dia ingin memeluk sahabatnya itu. Namun apa daya tenaganya tidak cukup untuk sekedar beranjak dari dipan ini. Terbayang kembali masa-masa lima tahun yang lalu ketika mereka masih bersama-sama. Waktu itu Ricky dan Rio adalah bagian dari lima sekawan yang selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi. Tiga lainnya adalah Danu, Egi dan Bobby. Mereka berlima sangat gemar mengutak-atik mesin motor. Merupakan sebuah keasyikan sendiri bila bisa mempercepat tenaga kuda dan laju dari sebuah motor. Namun sayang mereka berlima terhanyut dalam kehidupan obat-obatan terlarang.

Pada awalnya hanya Bobby yang memperkenalkan ganja kepada teman-temannya. Pertemanan dengan ganja tidak bertahan lama, karena mulai muncul sahabat yang lebih cantk lagi yaitu putaw. Mereka selalu membeli secara patungan. Pada awalnya mereka hanya sekedar mencoba-coba kecantikan putaw. Lambat laun kehidupan mereka tidak bisa lepas dari putaw. Tanpa sadar mereka mulai memerlukan penambahan dosis dari putaw. Mulai tadinya seperempi (seperempat gram), setenggo (setengah gram), sampai akhirnya segaol (satu gram). Menyuntikkan langsung obat ini akhirnya menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kuota heroin agar bisa bereaksi di otak. “Nggak nendang kalo nggak pakaw.”

“Kemana sekarang Bobby, Egi dan Danu?” tanya Rio terbata

Ricky hanya terdiam. Menghela nafas. Mengatur posisi duduk lebih dekat dengan dipan Rio. Kemudan mulai memegang erat tangan Rio.

“Mereka sudah meninggal Rio. Bobby dan Danu meninggal karena meningitis. Sedangkan Egi karena bakteri TB yang merusak paru-parunya,” Ujar Ricky.

Sesaat mengalir setetes air mata dari ujung kelopak mata Rio.

“Kuat dugaan mereka telah terinfeksi HIV sebelumnya,” lanjut Ricky. “Aku sendiri baru tahu status ku enam bulan yang lalu. Waktu itu aku sakit parah di rumah sakit. Beruntung aku ketemu dengan Andy. Dia yang menguatkan mental aku, bahwa aku tidak sendiri. Dia juga yang meyakinkan aku bahwa infeksi penyerta ini bisa disembuhkan. Syukurlah aku sudah bisa sembuh dari infeksi TB ku itu, “ujar Ricky.

“Kami kemari karena kami mendengar bahwa Rio telah di tes HIV, tapi tanpa melewati konseling,” timpal Andy.

“Tujuan kami ingin membantu Rio dan Ibu Karim agar dapat melewati masa-masa kritis ini dengan baik,” sambungnya.

Bu karim tertegun mendengar penuturan dua orang anak muda ini. Dalam hatinya mulai timbul secercah harapan bahwa anak lelakinya pasti bisa melewati masa-masa sulit ini. Bu Karim yakin akan kesungguhan dan keyakinan Rio untuk tetap bertahan. Terlihat juga sedikit rona mata yang berbinar-binar dari Bu Karim dan juga Rio.

Sharing tulisan ini di :
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Tumblr
  • del.icio.us
  • LinkedIn
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • FriendFeed
  • Yahoo! Bookmarks
  • Digg
  • Print
  • email
  • PDF
  • RSS