Para Ahli Kesehatan Thailand Meminta Peninjuan Ulang Program PMTCT

Posted by: Bagus  :  Category: HIV/AIDS/STI

Para ahli meminta peninjauan ulang program nasional PMTCT yang saat ini mengikuti pedoman WHO. Menurut Manoon Leechanwengwong, Presiden Thai AIDS Society, strategi program ini dapat mengakibatkan peningkatan resistensi obat pada perempuan dengan HIV positif. Menurut pedoman WHO yang termasuk di dalamnya tentang pemberian Zidovudin yang dimulai pada minggu ke 34 kehamilan yang dilanjutkan dengan pemberian Nevirapin selama proses persalinan, rejimen ini dapat menurunkan resiko penularan HIV dari ibu ke anak sampai dengan 4%. Namun pada perempuan HIV positif dengan CD4 antara di atas 500 dapat meningkatkan kejadian resistensi terhadap Nevirapin.

NIH (National Institute of Health) Thailand merekomendasikan penggunaan kombinasi ARV (Zidovudin-Lamivudin) pada minggu ke-14 kehamilan sampai dengan minggu ke-34. NIH juga merekomendasikan penggunaan kombinasi Zidovusin dan Lamivudin tiga sampai tujuh hari setelah persalinan untuk mengurangi resistensi terhadap Nevirapin.

Menurut Manoon, kajian yang dilakukan oleh NIH telah terbukti mampu menurunkan resiko penularan infeksi dari Ibu ke Bayi sampai dengan 1%. Manoon meminta pemerintah Thailand untuk merevisi dan memperbaiki rekomendasi program PMTCT saat ini dengan mengikuti rekomendasi NIH tersebut.

Sharing tulisan ini di :
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Tumblr
  • del.icio.us
  • LinkedIn
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • FriendFeed
  • Yahoo! Bookmarks
  • Digg
  • Print
  • email
  • PDF
  • RSS

Nipple Shield – Pencegahan Penularan HIV pada Saat Menyusui

Posted by: Bagus  :  Category: HIV/AIDS/STI

Sebuah pelindung puting (Nipple Shield) yang bisa mencegah penularan HIV melalui jalur menyusui telah ditemukan oleh para peneliti di Cambridge University. Stephen Gerrards, seorang ahli kimia, telah menemukan sebuah alat yang dapat melindungi dan akan melakukan disinfeksi terhadap ASI ibu yang HIV positif. Alat tersebut menggunakan cairan sejenis deterjen yang secara biokimiawi akan memecah protein untuk analisa. Sebuah lapisan yang berbahan dasar wool-katun telah dicampurkan dengan deterjen tersebut dan akan melumpuhkan virus sebelum sempat masuk ke saluran pencernaan bayi yang menyusui.

Lapisan ini akan mematikan virus tanpa harus melalui proses-proses yang rumit seperti pemanasan dan pasteurisasi yang saat ini dikenal sebagai metode untuk melumpuhkan virus HIV pada ASI. Prototipe ini kemudian dikembangkan oleh para ahli dan pekerja lapangan yang berkumpul di International Design Development Summit (IDDS) di Amerika.

Cairan yang tidak beracun

Gerrard bersama-sama dengan lima orang anggota tim lainnya telah lama ditugaskan untuk menemukan sebuah metode praktis yang berguna untuk melumpuhkan virus.

“Kami kemudian menemukan bahwa proses pemanasan dan pasteurisasi ini merupakan sebuah proses yang rumit, terutama bagi para perempuan di negara berkembang. Mereka mungkin tidak punya waktu yang cukup untuk melakukannya,” demikian dikatakan Gerrard.

Ada riset lanjutan yang dilakukan oleh Drexel University dengan menggunakan Sodium dodecyl Sulphate (SDS) yang terlihat lebih menjanjikan. Project-project ini akan dapat memberikan manfaat dan inovasi yang besar pada pencegahan HIV di Indonesia.

Mungkin akan muncul masalah lanjutan, bahwa dengan menggunakan Nipple Shield akan menciptakan stigma baru bagi ibu yang sedang menyusui. Namun masalah ini mungkin bisa diatasi dengan melakukan riset lanjutan tentang tatacara penggunaan NS tersebut.

Manfaat lainnya adalah NS tersebut dapat juga ditambahkan zat gizi pendukung lainnya, misalnya obat-obatan atau berbagai micronutrient seperti pada kasus defisiensi protein atau defisiensi zat besi.

Sharing tulisan ini di :
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Tumblr
  • del.icio.us
  • LinkedIn
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • FriendFeed
  • Yahoo! Bookmarks
  • Digg
  • Print
  • email
  • PDF
  • RSS