Resiko infeksi HIV ke bayi selama menyusui bisa ditekan
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa : jika seorang ibu hamil diberikan pengobatan Anti Retro Viral (ART) mulai dari trimester ketiga kehamilan sampai dengan bulan keenam selama menyusui, maka akan menurunkan resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai dengan 40%.

Penelitian ini dinamakan Kesho Bora yang dalam bahasa Swahili artinya ‘a better future’. Penelitian ini baru-baru saja dipresentasikan dalam 5th International AIDS Society Conference on HIV Pathogenesis, Treatment and Prevention di Cape Town, South Africa, antara 19-22 Juli 2009.
Penelitian dilaksanakan selama Juni 2005 sampai dengan Agustus 2008 dengan melibatkan sejumlah 1.140
perempuan pada lima tempat di Afrika (Burkina Faso, kenya dan Afrika Selatan). Tujuan Kesho Bora adalah untuk mengetahui apakah resiko infeksi HIV selama menyusui dapat dikurangi.
Penelitian ini menunjukkan penurunan infeksi yang signifikan ketika seorang ibu hamil dengan CD4 antara 200-500 cell/mm3 mulai diberikan ART pada trimester terakhir, saat melahirkan dan dilanjutkan sampai enam bulan menyusui. Jika dibandingkan dengan rekomendasi terkini WHO yang hanya memberikan ART mulai minggu ke 28 dan pada saat persalinan, Kesho Bora menunjukkan penurunan resiko infeksi HIV ke bayi dan meningkatkan survival rate bayi yang dilahirkan dari ibu HIV positif.
Hasil terbaik dari penelitian ini ditunjukkan oleh kelompok yang mempunyai nilai CD4 antara 200-350. Pada kelompok ini sama sekali tidak terlihat adanya resiko baik infeksi oportunistik maupun resiko infeksi baru ketika diberika kombinasi ART zidovudine, lamivudine, ritonavor/lopinavir.
Permasalahan pemberian makanan pada bayi merupakan hal yang krusial pada ibu dengan HIV positif. Pada negara berkembang, termasuk Indonesia, para ibu ini akan dihadapkan kepada pilihan yang sulit antara menyusui bayinya dengan resiko infeksi HIV pada bayi atau memberikan susu formula. Pilihan terakhir selain mahal juga akan mengurangi kekebalan alamiah yang seharusnya bisa didapatkan dari ibu. Kekebalan alamiah ini sangat penting bagi bayi untuk memerangi terhadap malnutrisi, diare dan penyakit lainnya. Sanitasi juga menjadi masalah utama. Banyak ibu yang tidak paham mengenai kebersihan alat-alat yang digunakan untuk membuat susu formula. Disamping ketersediaan air bersih yang masih menjadi masalah di negara kita. Problem pemberian susu formula yang komplek ini akan menyebabkan tingginya angka kematian bayi bukan karena HIV namun disebabkan diare. Dihadapkan pada dua pilihan sulit ini sudah pasti akan menyulitkan ibu dengan HIV positif untuk mengambil keputusan.
Sedangkan kita menyadari bahwa fokus yang kemudian menjadi sangat penting adalah untuk mengurangi angka mortalitas pada ibu dan mengurangi infeksi HIV baru pada bayi yang dilahirkan.
Hasil temuan penelitian Kesho Bora saat ini sedang diramu oleh para ahli dari WHO, bersama-sama dengan data-data terbaru untuk memperbarui rekomendasi WHO tahun 2006. Diharapkan guideline terbaru sudah akan diterbitkan pada penghujung tahun 2009 ini.
Penelitian ini memberikan pilihan yang sangat memudahkan bagi ibu dengan HIV positif selama menyusui bahwa kelak tidak akan ada rasa takut untuk menginfeksi bayinya selama menyusui.

