Sulitnya Sehat

Posted by: Bagus  :  Category: Opo Tumon, Positive Mind

Tadi pagi pada saat hendak mengantarkan istri saya, lewatlah di depan rumah kami, Oma tetangga depan rumah. Nampaknya Oma ini akan bepergian ke suatu tempat sendirin. Maklum si Opa, suami dari Oma, sudah meninggal setahun yang lalu. Sedangkan anak-anaknya tinggal berjauhan dari Oma. Kemudian kami tawarkan untuk pergi bersama saja, sekalian kami antarkan saja Oma ini. Awalnya Oma menolak, tapi setelah kami setengah memaksa karena tidak tega melihat Oma berjalan kaki dengan panas matahari pagi, akhirnya Oma bersedia untuk ikut serta. Di mobil, kami menanyakan tujuan Oma hendak kemana. Rupanya Oma hendak pergi ke suatu tempat perkumpulan MLM. Perkumpulan ini rutin mengadakan pertemuan setiap sabtu pagi sampai siang. Istri saya kemudian penasaran untuk mengetahui lebih lanjut tentang MLM ini. Lalu Oma bercerita tentang produk-produk yang ditawarkan yang semuanya berupa produk kesehatan dari jepang. Menurut beliau produk ini bukan ditujukan untuk penyembuhan, tapi lebih kepada pencegahan penyakit. Metode nya macam-macam. Salah satunya dengan infra merah, radiasi magnet dan lain-lain yang sebenarnya termasuk metode alternatif kesehatan.

Elderly

Mendengar penuturan Oma, saya jadi tersenyum kecut. Ingatan saya kembali kepada medio delapan tahun yang lalu. Waktu itu ayah dan ibu saya senang sekali ikut MLM yang satu ini. Jadi ini bukan kali pertama saya mendengar tentang MLM ini. Namanya juga sama persis. Saya tidak akan menyebutkan namanya di sini. Ayah saya penderita jantung dengan diabetes, sedangkan ibu saya juga menderita diabetes dan pada waktu itu sedang mengalami carpal tunnel syndrom (CTS) yang diakibatkan banyaknya aktifitas menulis (karena beliau seorang guru). Setelah menyerah dengan berbagai macam metode pengobatan medis, akhirnya kedua orang tua saya lari ke metode alternatif ini. Walaupun anaknya seorang dokter tapi mereka lebih percaya kalau diberikan obat oleh sebangsa sinshe atau alternatif healer lainnya. Dan entah karena sugesti, ayah dan ibu saya merasa mendapatkan perbaikan setelah rutin mengikuti pertemuan tersebut. Namun masalahnya bukan pada pertemuannya. Masalahnya ada pada benda-benda yang harus dibeli setiap minggunya. Kedua orang tua saya termasuk top buyer. Artinya setiap barang yang ditawarkan walaupun mahal pasti dibeli. Dalam hati kecil saya yang namanya top buyer itu adalah orang-orang yang berhasil ditipu dengan nilai tinggi. Miris juga yah. Dan sasaran dari bisnis ini sangat jelas sekali. Yaitu para pensiunan yang kebanyakan mempunyai masalah kesehatan kronis. Rata-rata sudah menyerah dengan masalah kesehatan masing-masing. Ini termasuk penipuan tingkat tinggi. Ayah saya akhirnya meninggal 4 tahun kemudian. Ibu saya sampai sekarang diabetesnya berhasil dikontrol karena beliau memang disiplin dalam menjalankan diet. Jadi apa dong manfaat dari obat-obat dan peralatan medis yang dijual oleh bisnis MLM tadi? Bisa dibilang tidak ada. Hanya menciptakan kesenangan semu sesaat. Sedangkan saya pada saat itu tidak bisa serta merta menghentikan aktifitas orang tua. Karena saya lihat mereka cukup bahagia dengan pertemuan-pertemuan yang dihadiri. Saya merasa bersalah juga karena tidak tinggal satu kota dengan mereka, jadi  seakan merasa tidak mempunyai hak untuk melarang aktifitas keduanya. Nanti saya dikira bukannya memberi solusi tapi malah menyetop aktifitas yang membuat mereka nyaman.

Kembali ke permasalahan bisnis MLM tadi. Menurut saya bukan salah orang tua saya atau Oma tetangga depan rumah. Mereka sebagai warga masyarakat berhak mendapatkan akses layanan kesehatan. Namun apa lacur. Hak tersebut hilang ditelan sistem kapitalisme kesehatan yang sudah terlanjur mengakar di negeri ini. Layanan kesehatan sudah dipisah-pisahkan berdasarkan kelas. Seakan-akan layanan kesehatan paripurna hanya berhak dinikmati oleh orang-orang yang mempunyai dana yang berkecukupan. Bagi warga negara yang kurang mampu silakan mencari layanan kesehatan yang sesuai dengan kemampuannya. Apalagi bagi pensiunan pegawai negeri. Layanan Askes tidak lebih sebagai layanan basa-basi mengingat terbatasnya jumlah dan prasarana kesehatan yang ditanggung. Akibatnya penyakit yang kronis akan menjadi semakin kronis dan terlihat sebagai masalah kesehatan personal yang tak kunjung selesai. Wajar jika akhirnya banyak yang lari ke layanan alternatif. Tidak heran layanan alternatif mempunyai banyak peminat di negeri ini. Ada yang menjanjikan bisa mengobati katarak tanpa operasi. Atau menjual obat yang diklaim dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

kes_kunjungan

Seandainya Oma depan rumah memiliki uang lebih pasti dia akan berobat ke Singapura (seperti boss-boss besar lainnya). Mana ada pensiunan pegawai negeri yang setiap sakit berobat ke Singapura? Dalam hati kecilnya, Oma tadi pasti ingin sekali minimal dapat berobat di rumah sakit kelas atas di ibukota dengan dokter-dokter yang mumpuni. Namun apa daya. Biaya untuk berobat ke rumah sakit sudah menjadi sangat mahal. Profesi dokter sekarang sudah kehilangan roh nya. Inisiasi awal tidak lebih mulia dari seorang pedagang, ketika seorang sakit membutuhkan pertolongan yang muncul pertama kali adalah negosiasi harga dan tawar menawar obat yang mampu dibeli. Sistem pembelian obat yang dibiarkan menguntungkan produsen-produsen farmasi dan merugikan konsumen merupakan sebuah gurita raksasa yang sulit untuk dilepaskan jeratnya. Sangat sering sekali kita mendengar kasus bayi baru lahir yang ditahan di rumah sakit hanya karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya persalinan. Saya yakin jika sistem kapitalisme kesehatan dibiarkan tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini, dalam waktu sepuluh tahun ke depan akan banyak sekali kasus-kasus seperti Ibu Prita Muliasari dimana pasien tidak mampu keluar dari kungkungan sistem kapitalis, dan jika ingin keluar terpaksa berurusan dengan hukum. Sekali lagi miris memang.

Sharing tulisan ini di :
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Tumblr
  • del.icio.us
  • LinkedIn
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • FriendFeed
  • Yahoo! Bookmarks
  • Digg
  • Print
  • email
  • PDF
  • RSS

Tertular HIV Dari Nanas

Posted by: Bagus  :  Category: HIV/AIDS/STI, Opo Tumon

Siang ini saya baru saja di BBM-in sama temen saya. Pesannya cukup panjang lebar. Menceritakan tentang seorang anak kecil di Malaysia yang terinfeksi HIV dari seorang pedagang penjual nanas. Lho kok bisa? Ceritanya begini. Dua minggu yang lalu si anak kecil ini membeli nanas yang telah dikupas. Rupanya si penjual adalah seorang yang telah terinfeksi HIV. Pada saat si pedagang mengupas nanas, tersayatlah tangannya. Kemudian tanpa disadari darah bekas sayatan tadi masuk ke sela-sela nanas kemudian nanasnya dibeli dan dimakan oleh si anak kecil itu. Dua minggu kemudian anak tersebut menjadi sakit, setelah diperiksa ternyata dia HIV positif. Padahal setelah diperiksa, kedua orang tuanya maupun saudara-saudaranya tidak ada yang terinfeksi HIV. Kesimpulan dari BBM tersebut adalah : hati-hati kalau membeli buah yang sudah dikupas, nanti bisa ketularan HIV.

Ada beberapa aspek cerita tersebut yang salah kaprah mengenai HIV.

Pertama, untuk bisa menularkan HIV ada prinsip ESSE (exit, sustain, sufficient dan enter). Exit artinya ada jalan keluar, sustain artinya virus HIV nya bisa bertahan hidup di dunia luar, sufficient artinya jumlah virus nya cukup banyak untuk menginfeksi, enter berarti ada pintu masuk entah itu berupa luka atau peradangan. Dalam kasus si anak dari Malaysia tadi ada faktor exit, yaitu ketika tangan si penjual nanas tersayat dan darah masuk ke ke nanas. Tapi faktor sustain tidak terpenuhi, karena begitu darah keluar dari tubuh seseorang potensi virus untuk bisa bertahan hidup menjadi sangat kecil, apalagi pada nanas dengan keasaman yang tinggi. Faktor sufficient mungkin ada. Yang terakhir adalah faktor enter yang mungkin tidak ada. Benar bahwa nanas masuk ke dalam tubuh dan dimakan, tapi apakah ada luka atau peradangan di dalam usus ? Rasanya tidak.

Kedua, ketika seseorang pertama terinfeksi HIV maka tidak serta merta hasil tes darahnya positif. Butuh waktu sekitar 3 bulan untuk menunjukkan hasil tes darah yang positif. Periode antara awal terinfeksi dengan hasil tes yang positif disebut dengan periode jendela (window period). Hal ini terjadi karena tes HIV yang beredar saat ini adalah tes untuk memeriksa antibody HIV dalam tubuh kita, bukan mencari antigen. Sedangkan untuk HIV, antibody baru akan terbentuk tiga bulan setelah teriinfeksi. Namun dalam masa window period tersebut orang yang terinfeksi sudah bisa menularkan HIV ke orang lain walaupun hasil tes menunjukkan bahwa dirinya negatif. Pada kasus anak Malaysia tersebut rasanya tidak mungkin baru terinfeksi 2 minggu kemudian menunjukkan hasil pemeriksaan yang positif.

Cerita teman saya di BBM tadi adalah benar-benar hoax. Banyak sekali cerita seperti ini yang beredar. Ujung-ujungnya kembali melakukan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (orang dengan HIV dan AIDS). Mungkin pernah dengar sekitar dua atau tiga tahun yang lalu ada hoax mengenai jarum yang sengaja dipasang di bioskop-bioskop oleh komunitas HIV. Begitu tertusuk kemudian ada tulisan “Selamat anda sudah bergabung dengan komunitas kami”. Itu benar-benar hoax!! Alasannya lihat kembali prinsip ESSE di atas. Namun hoax tersebut sudah cukup meresahkan warga. Terbukti bahwa pada saat itu hampir setiap membawakan sesi HIV pada masyarakat umum saya selalu ditanyakan tentang isu kesengajaan penusukan jarum yang terinfeksi HIV tersebut.

Kesimpulannya : jangan langsung percaya begitu saja dengan hoax yang saat ini banyak beredar di masyarakat.

Sharing tulisan ini di :
  • Facebook
  • Twitter
  • MySpace
  • Tumblr
  • del.icio.us
  • LinkedIn
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • FriendFeed
  • Yahoo! Bookmarks
  • Digg
  • Print
  • email
  • PDF
  • RSS